Janji Telapak Tangan dalam Memori

Namaku Ila. Aku masih kelas 5 SD. Di kelas, aku punya teman yang namanya Alya Mahardika Hapsari. Panggilannya adalah Iya’. Iya’ termasuk anak yang cerdas. Ia tak peduli penampilan. Maklum, dia pintar atau cerdas karena ibunya adalah seorang guru.

Manusia diciptakan oleh Allah swt dengan kekurangan dan kelebihan yang ada. Aku memiliki banyak kekurangan. Aku egois, pemarah, dan sangat terpengaruh pada situasi yang terjadi. Sebaliknya, menurut teman teman, aku adalah orang yang menyenangkan. Begitupun Iya’. Dia sangat sensitif dan mudah terpengaruh. Ada beberapa kemiripan antara aku dan Iya’. Yaitu cat lovers dan kutu buku. Ada sisi baiknya juga. Iya’ memiliki cara tersendiri untuk mengatasi situasi yang tak mengenakkan gara gara sholih (sebutan atau julukan kepada teman laki-laki). Meskipun mau tak mau teman temanku harus menerima teriakan Iya’ yang menegur sholih.

Aku jadi teringat janji Iya’.. waktu itu, bu Umil (guru kelas 2) meminta kami untuk menuliskan janji atau prinsip hidup di kertas lipat berbentuk telapak tangan. Aku menuliskannya di telapak tangan bewarna hijau. Aku menuliskan ‘aku akan berusaha lebih baik lagi,’ aku menambahkannya di hatiku. ‘Untuk membanggakan keluarga dan mengajak keluarga ke surga- Nya’. Aku membaca kertas lipat telapak tangan Iya’. Hmm… I will try not to cry anymore? Hmm.. benarkah? Iya’ berjanji akan berusaha untuk tidak menangis lagi? Oke… janji itu akan kusimpan di memori otakku.

Isi dari janji telapak tangan Iya’ dijadikan alasan untuk menghibur Iya’ agar tidak menangis lagi. Tapi, janji yang sudah Iya’ tuliskan belum bisa ia penuhi. Mungkin, dia kurang membulatkan tekad di dalam dirinya. Tapi, hingga kini, banyak perubahan yang ia lakukan. Ia sudah tak begitu suka marah marah lagi. Aku senang akan hal tersebut.

Hah… kertas lipat berbentuk telapak tangan berisi janji itu memang sudah hilang entah ke mana sekarang ini.. tapi, aku yakin, Insya Allah aku dan teman temanku dapat memenuhinya. Pagi dini hari ini, aku hampir menangis di sujud terakhirku. Aku sangat berharap perubahan atau janji kami di telapak tangan benar benar terwujud. Aku juga berdoa agar Iya’ mau berubah, untuk tidak sensitif lagi.. Aku yakin ia akan berubah. Ya.. semoga saja..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *